Kelicikan Prabu Kresna

 on Jumat, 22 Mei 2015 

Dalam dunia pewayangan, nama Prabu Kresna atau Batara Kresna, atau Raden Narayana, atau Raden Padmanaba, atau Raden Danardana, atau Raden Harimurti, atau Prabu Wisnumurti sangatlah dikenal. Ia terkenal sebagai tokoh yang baik, berbudi luhur, cerdas, cerdik, dan maha sakti. Tokoh ini juga sangat terkenal karena keberpihakannya pada Pandawa, keluarga tokoh-tokoh pewayangan yang menyimbolkan kebaikan, dalam berperang di Kurusetra melawan pihak Kurawa yang melambangkan kejahatan dan angkara murka. Kebijaksanaan Prabu Kresna bahkan dikenal sebagai salah satu ajaran agama Hindu, yaitu percakapan Prabu Kresna sebagai sais kereta perang dengan Arjuna dalam kitab Bhagavad Gita.

Prabu Kresna yang pada masa kecilnya bernama Raden Narayana adalah seorang raja sebuah kerajaan besar bernama Dwarawati. Ia adalah putra Prabu Basudewa raja negara Mandura. Prabu Kresna sebenarnya adalah titisan dewa Wisnu, itu sebabnya ia begitu sakti mandraguna dan bijaksana. Banyak sekali yang dapat diceritakan mengenai Prabu Kresna ini, hanya saja begitu panjang dan berliku bila saya kali ini membahas cerita mengenai tokoh ini saja. Dalam catatan kali ini saya hanya ingin mencoba berpikir dan menganalisis secara dekonstruktif mengenai tokoh ini. Selama ini dalam dunia pewayangan ataupun pemikiran masyarakat jawa pada umumnya, Kresna adalah tokoh yang baik, berwibawa dan berwatak ksatria karena memihak Pandawa dan mewejangi Pandawa dengan petuah-petuah bijak serta merupakan ahli strategi perang Pandawa. Padahal, sebenarnya menurut saya, Kresna tak ubahnya tokoh dalam pewayangan yang licik, kadang-kadang pengecut meskipun memang ia cerdas, jahat, dan tidak berwatak ksatria. Sebelumnya saya mohon maaf yang sangat bila banyak dari pembaca merasa keberatan dengan analis saya ini. Tentu saja sebagai ‘wayang lover’ saya setuju dengan pakem wayang yang telah ada sebelumnya, saya pun tidak keberatan memandang Kresna sebagai tokoh baik seperti yang selama ini dikenal. Saya hanya ingin mencoba melihat (dan mencoba mempertanyakan) nilai moral, cerita, dan anggapan yg telah dipercayai selama ini dengan cara yang berbeda, yaitu dengan cara pandang dekontruksi, dimana apa yang telah disetujui oleh khalayak dan masyarakat umum belum tentu seperti apa adanya. Analisis saya bersifat terbuka dan post-strukturalis, yaitu bahwa sebuah angapan atau ideologi bahkan cerita merupakan struktur berserak yang terbuka atas sgala macam interpretasi yang dikuatkan dengan bukti-bukti.



Karena begitu singkat, saya hanya akan membuat daftar kelicikan Kresna secara sederhana.
  1. Secara fisik (saya berpikir secara semiotis kali ini, yaitu bermain lambang dan simbol), meskipun Kresna memang terkenal tampan, tapi ia berkulit hitam legam, ceking/kurus/cungkring, tidak begitu tinggi apalagi gagah dalam artian ksatria atau tokoh jagoan lain. Ketika berbicara selalu dengan nada yang tinggi seperti perempuan dan selalu dengan cepat. Ini memandakan bahwa ia cerewet, kenes. Meskipun dalam pandangan lain orang akan dapat menerjemahkannya sebagai karakter yang cerdas dan talkative
  2. Perang Kurusetra, perang saudara antara Pandawa dan Kurawa yg menjadi inti masalah perang Bharatayudha dan banyak mengorbankan jiwa para prajurit bahkan orang-orang tak bersalah itu adalah prakarsa Kresna. Pada saat perundingan kedua belah pihak, Kresna merasa tersinggung karena pihak Kurawa (dalam hal ini Duryudana dan antek-anteknya) tidak menghormatinya sebagai duta perdamaian Pandawa dengan mempersiapkan pasukan di luar istana secara diam-diam untuk menyerang rombongan Pandawa. Akhirnya ia menitikrama atau berubah wujud menjadi raksasa dan mengamuk di kerajaan Hastina, padahal masih banyak tokoh Kurawa yang masih membuka kesempatan berdialog seperti Resi Bhisma, Prabu Salya, bahkan Karna dan Pandita Durna. Sebagai sorang titisan dewa, tak pantas rasanya bila Kresna khilangan kesabaran dan mengamuk sedemikian rupa. Ialah yang kemudian memutuskn untuk berperang dengan Kurawa, dan meyakinkan segenap kluarga Pandawa, terutama Arjuna untuk berperang dan membunuh siapa saja yang menghalanginya. Padahal Arjuna mash ragu dan meminta pertimbangan ulang serta memilih untuk mengalah daripada berperang dengan saudara sendiri untuk memperebutkan kerajaan (percakapan untuk meyakinkan Arjuna inilah yang terangkum dalam kitab Bhagavad Gita. Sekali lagi maaf, ini tidak dimaksudkan untuk mengkritisi ajaran tertentu, hanya sebatas analisis karya seni dan sastra).
  3. Kresna dan semua pihak baik Pandawa maupun Kurawa sadar bahwa Kresna tak terkalahkan karena ia adalah titisan dewa Wisnu, oleh sebab itu Kresna dengan bijaknya bersumpah tidak akan turun perang, namun hanya menjadi sais kereta perang Arjuna. Padahal mulai dari sinilah ia yg mengatur strategi perang dan menggunakan segenap kelicikan yang ia punya.
  4. Sebelum perang di lapangan Kurusetra, Kresna menyingkirkan orang-orang yang dianggap terlalu kuat dan takut akan berpihak kepada Kurawa. Korban-korbannya adalah:
    1. Antasena dan Antareja: putra-putra Bima/Werkudara. Mereka dianggap terlalu kuat bila ikut dalam perang, oleh sebab itu mereka dibujuk dengan pertimbangan filosofis dan sebagainya agar bunuh diri. Keduanya termakan bujukan ini. Kedua ksatria itu merasa bahwa mereka berkorban demi Pandawa dan dunia, agar dalam pertempuran tidak membunuh banyak korban jiwa dan menghancurkan dunia karena kesaktian mereka.
    2. Bambang Irawan: putra Arjuna yang tidak diketahui dari istri yg mana (maklum Arjuna kan playboy, anak-anaknya tersebar dimana-mana dari ratusan istri dan selir). Ketika mengetahui perang Bharata, ia ingin membantu ayahnya (yang belum pernah ditemui). Tapi ia tewas mengenaskan, diserang Kala Srenggi, raksasa yg menyangka ia adalah Arjuna (karena memang ia sangat mirip dengan ayahnya), yang dulu membunuh ayah Kala Srenggi. Keduanya tewas ditempat, bahkan sebelum sampai di Tegal Kurusetra.
    3. Kelicikan-kelicikan yang tidak bersifat ksatria Kresna. Tidak semua tokoh-tokoh Kurawa jahat, malah sebaliknya, banyak dari mereka yang bijaksana lagi sakti, hanya saja mereka berkorban untuk membela negaranya. Nah, karena kesaktian mereka inilah Kresna melancarkan serangkaian strategi yg tak jarang begitu licik. Tokoh-tokoh itu adalah:
      1. Prabu Salya: hatinya sebenarnya cenderung memilih Pandawa, namun apa mau dikata, Kurawa adalah tempat dimana ia hidup dan mengabdi. Karena Salya begitu kuat, banyak ksatria Pandawa yang tewas. Dengan liciknya ia mengutus saudara kembar Nakula dan Sadewa, bungsu Pandawa untuk menghadap Salya untuk memohon agar Salya sudi mengakhiri perang, bila perlu membunuh mereka berdua. Salya begitu sayang kepada si kembar karena mereka terlihat ‘innocent’. Akhirnya, Salya mengungkapkan kelemahannya kepada si kembar, bahwa ia hanya dapat mati bila dibunuh oleh ksatria berdarah putih, dan ia adalah Yudistira/Puntadewa, anak tertua Pandawa. Esoknya, Salya terbunuh oleh panah Puntadewa. Padahal Puntadewa adalah orang paling jujur, baik dan naif di dunia, yg bahkan tak sanggup membunuh semut skalipun (karna saking baiknya orang jawa sering menjelaskan bahwa bahkan bila istrinya diminta orang lain, Puntadewa akan memberikannya!), namun Kresna berhasil meyakinkan Puntadewa untuk membunuh Salya.
      2. Raden Karna: ia sangat dikenal dalam pewayangan dan dihati orang jawa pada umumnya sebagai pahlawan yang meskipun tahu bahwa negara yang ia bela mewakili kejahatan, tapi sebagai bentuk bakti pada negeri yang ia cinta ia rela mati tanpa mempertanyakan prilaku negerinya. Karna sbnarnya adalah ‘anak haram’ Pandawa, dibuang karna dilahirkan oleh Kunti dengan malu, sebab lahir dari telinga dan pada saat Kunti belum menikah. Hanya saja Karna sakti, karna ayahnya adalah Dewa Surya (matahari). Lawan tandingnya di Kurusetra adalah Arjuna. Kedua saudara ini memiliki wajah mirip, sama-sama tampan dan sama-sama sakti terutama sangat mahir memanah. Sebenarnya Arjuna sudah kalah, tapi panah Karna meleset, hanya mengenai mahkota. Ini disebabkan Salya, yang menjadi sais kereta perang Karna sengaja menggoyahkan kereta agar panah meleset. Ini dikarenakan Kresna meyakinkan pihak Kurawa agar menggunakan Salya sebagai sais, dan Kresna tahu bahwa Salya pasti berpihak pada Pandawa. Karena siasat ini, Arjuna pun akhirnya menang dan berhasil membunuh Raden Karna.
      3. Duryudana: Memang pokok permasalahan dalam prang Bharata ini adalah Raden Duryudana, anak tertua dari saudara-saudara Kurawa yang berjumlah seratus orang (ya, seratus orang!!) yang begitu keras kepala, namun juga teguh dan sakti. Pada saat perang Bharata usai dan Kurawa dikalahkan, Duryudana tidak mau menyerah. Ia akhirnya duel dengan Bima yang memang memiliki perawakan yang serupa, tinggi besar, gagah, tampan, dan sama-sama sakti. Selayaknya duel ksatria, pertandingan ini haruslah jujur, sportif dan ksatria. Duel berjalan seimbang, kedua belah pihak sama-sama sakti. Tapi dengan licik Kresna memberikan isyarat pada Bima dengan menepuk pahanya sendiri, menunjukkan kelemahan Duryudana. Akhirnya Bima tahu bahwa kelemahan Duryudana terletak di paha, akibatya Duryudana kalah dan tewas, secara tidak adil. Bukan itu saja, Kresna membiarkan Bima mencincang Duryudana yang sudah tewas, meski ini sudah dicegah oleh pihak Pandawa dan kakak Kresna sendiri, Baladewa. Tindakan Bima bukan tindakan ksatria, karna menghajar habis-habisan ksatria tanding yang sudah mati, tapi Kresna berkilah bahwa ini memang pantas bagi orang semacam Duryudana.
      4. Bukan itu saja, Kresna juga mengorbankan banyak tokoh baik dari sanak keluarga Pandawa demi kemenangan Pandawa:
        1. Raden Abimanyu: putra kesayangan Arjuna, mati mengenaskan dengan tubuh ‘tatu arang kranjang (hancur penuh luka)’ karena dihajar dengan ratusan anak panah, luka cabikan, sayatan, tusukan oleh senjata para Kurawa. Dikeroyok dengan pengecut. Ini dikarenakan ia melanggar perintah ayahnya, Arjuna untuk maju perang ketika ayahnya sedang berperang. Jadi seharusnya Abimanyu maju berperang ketika didampingi ayahnya. Tapi Abimanyu melanggar perintah itu, tebak karena apa … karena perintah Kresna. Kresna bersikeras bahwa Abimanyu harus maju perang meski ayahnya tidak disisi. Akibatnya, Abimanyu tewas dengan badan hancur berantakan.
        2. Raden Gatotkaca, putra sakti Bima yang sangat terkenal di dunia pewayangan dan cerita nasional karena kesaktiannya yang luar biasa. Ia juga adalah sepupu juga sahabat baik Abimanyu. Ia juga tewas dengan mengenaskan seperti Abimanyu oleh Karna, terkena panah/keris Kyai Wijayandanu. Sebenarnya Gatotkaca tak terkalahkan. Ia memiliki otot kawat, dan tulang besi. Dapat terbang dengan kecepatan halilintar, tak mempan pada senjata apapun, dari seluruh tubuhnya (bahkan dari mata!!) dapat mengeluarkan ratusan anak panah. Ciri khasnya adalah darah dingin tak kenal ampun, terbang sambil memutuskan kepala lawan dari tubuhnya! Satu kelemahannya adalah panah/keris pusaka milik Karna. Pada saat Gatotkaca lahir, tali pusarnya hanya dapat dipotong oleh pusaka itu. Tapi ketika memotong, sarung pusaka tersebut tersedot masuk kedalam perut Gatotkaca. Pada perang Bharata, pusaka yang dilepaskan Karna mengejar Gatotkaca karena sarungnya ada di dalam tubuhnya. Gatotkaca mati terpanah di awan dan tewas. Ini karena Prabu Kresna memintanya berperang, padahal tahu bahwa saat ini Kurawa dipimpin Karna sebagai panglima perangnya. Ia sengaja mengorbankan Gatotkaca utk menghabisi pasukan Kurawa sebanyak-banyaknya sebelum Arjuna maju perang untuk membunuh Karna. Selain itu, Kresna tahu benar bahwa Karna pasti akan mengeluarkan senjata pamungkasnya, Kyai Wijayandanu karena memang Gatotkaca adalah lawan yang terlalu tangguh bagi Kurawa. Coba pikir, kenapa tidak Arjuna yang disuruh maju duluan sebagai lawan tanding seimbang Karna tanpa perlu mengorbankan Gatotkaca? Tentu karena kemungkinan kalah Karna lebih besar bila senjatan pamungkasnya yang hanya dapat dipakai sekali telah dilepaskan dan tak dapat digunakan lagi.


         sumber : https://nikodemusoul.wordpress.com/2011/09/15/kelicikan-kelicikan-prabu-kresna/
Saya tambahin 1 lagi :

Kematian Jayadrata : 

Pada hari sebelumnya, Abimanyu tewas dikeroyok Kurawa, dikatakan yang membunuh Angkawijaya adalah Tirtanata (Jayadrata).  Kematian Abimanyu membuat sang ayah - Janaka sangat sedih, dan menghilang tanpa pamit. Si Kresna mencarinya dan diberitahukan bahwa yang membunuh Joko Pengalasan adalah Jayadrata. Arjuna sangat marah dan bersumpah bila sampai matahari tenggelam, ia tidak berhasil membunuh Jayadrata, ia akan pati obong. Kaget sang Kresna, tapi dia telah berjanji untuk membantu Arjuna.

Singkat cerita, hari telah hampir sore. Jangankan untuk membunuh Jayadrata, menemukannya saja tidak. Akhirnya Kresna menggunakan "trik"nya, ditutupinya matahari dengan cakranya sehingga keadaan menjadi gelap, dan suasana hari itu dibuatnya seolah seperti senja. Sementara itu Arjuna diminta untuk bersandiwara hendak melakukan pati obong, tetapi ia tetap membawa Gandewa dan panah Pasopatinya. Sedangkan para pasukan Pandawa disuruh berkata bahwa Arjuna akan pati obong. Mendengar hal itu akhirnya Jayadrata terpancing untuk mengintip dari jendela gedong wojo (rumah besi) tempat ia disembunyikan. Mengetahui hal tersebut, Kresna memberi kode kepada Arjuna, dan dengan ketepatan memanahnya, Arjuna dapat memanah leher Tirtanata, putuslah kepala Jayadarata....

Burisrawa Lena 

Waktu itu Burisrawa sedang bertarung dengan musuh bebuyutannya yaitu sang Bima Kunting, Arya Setyaki. Singkat cerita, Burisrawa berhasil mencengkeram tubuh Setyaki yang memang lebih kecil, Setyaki tak kuasa melepaskan diri. Melihat hal itu, Kresna menyuruh memanah sehelai rambut yang dipegangnya, dengan alasan ingin menguji ketepatan memanah Janaka, namun sebenarnya panah arjuna akan diarahkan ke lengan Burisrawa. Arjuna melaksanakan perintah Kresna, panah Sarutama ia lepaskan menemui sasaran sehelai rambut, dan bablas mengenai lengan Burisrawa. putuslah lengan Burisrawa, akhirnya Setyaki dapat meloloskan diri dari cengkraman Burisrawa dan dapat membunuh Burisrawa.

Durna Gugur

Kresna meminta Puntadewa berbohong pada Durna bahwa anaknya Durna yaitu Aswatama telah gugur. Tapi Yudistira tidak mau, lalu Kresna meminta Puntadewa untuk mengatakan bahwa hesti..TAMA telah mati (ketika mengatakan hesti suara dilirihkan, dan tama dikeraskan), Yudistira menyanggupinya.

Sebelumnya banyak prajurit Pandawa yang mengatakan bahwa Aswatama telah mati. Tetapi Durna tidak mempercayainya, ia baru percaya kalau yang mengatakan adalah Puntadewa yang dikenal tidak pernah berbohong. Mendengar bahwa "Aswatama mati" dari mulut Yudistira, jatuh terkulai lemas sang Durna meratapai kematian anaknya. Hal ini dimanfaatkan oleh Drestajumena untuk membunuhnya, sebelumnya Drestajumna dirasuki arwah Palgunadi yang ingin menjemput sang guru. Maka menjadi liarlah sang senapati Drestajumena, tanpa ampun ia memenggal kepala Durna. Setelah sadar, Drestajumna menyesali perbuatannya.

Sebenarnya masih banyak lagi tentang "trik" Kresna, mungkin ada yang mau menambahkan.. Hehe
Kelicikan Prabu Kresna4.55Cah SaminJumat, 22 Mei 2015 Dalam dunia pewayangan, nama Prabu Kresna atau Batara Kresna, atau Raden Narayana, atau Raden Padm...


4 komentar:

  1. itu adalah siasat peperangan

    BalasHapus
  2. Di bagian bima tanding sama duryudana saya kurang setuju klo ada kelicikan. Saya rasa bima memukul paha kiri duryudana adalah sumpah bima waktu duryudana melecehkan drupadi seusai bermain dadu..

    BalasHapus
  3. Di bagian bima tanding sama duryudana saya kurang setuju klo ada kelicikan. Saya rasa bima memukul paha kiri duryudana adalah sumpah bima waktu duryudana melecehkan drupadi seusai bermain dadu..

    BalasHapus
  4. Bima tanding dgn duryudana di akhir bratayuda, bima memukul duryudana di bagian paha kiri nya adalah sumpah bima waktu duryudana melecehkan drupadi saat yudistira kalah bermain dadu.

    BalasHapus